Sumenep (kilasmadura.com) – Pengurus PDI Perjuangan Jawa Timur menyiapkan ruang bagi kaum muda setempat untuk bersuara dan melakukan kritik konstruktif.
Mereka bekerjasama dengan Tribun Jatim Network akan menggelar acara bertajuk “RedTalks: Suara Muda untuk Jatim Keren” di Dyandra Convention Center, Jalan Basuki Rahmad, Surabaya, pada Sabtu (22/11).
“Kami perlu mendengar suara anak-anak muda, termasuk pandangan mereka tentang PDI Perjuangan dan berbagai kebijakan publik yang berdampak pada kehidupan sehari-hari,” kata Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur MH Said Abdullah dalam keterangan tertulis, Jumat (21/11).
“RedTalks” bisa juga menjadi forum kritik-otokritik, termasuk kritik terhadap PDI Perjuangan di Jawa Timur.
Anggota DPR RI asal Sumenep ini berharap forum tersebut menghasilkan gagasan segar yang dapat menjadi bahan perumusan agenda politik ke depan.
“RedTalks” disiapkan menjadi panggung bebas bagi kaum muda di Jawa Timur untuk menyampaikan pikiran-pikiran jernih guna perbaikan kehidupan bersama.
Seluruh gagasan yang muncul akan dirangkum dan disusun menjadi rekomendasi.
“Rekomendasi itu nantinya akan dipilah menjadi dua bagian, yakni masukan bagi internal PDI Perjuangan Jawa Timur dan rekomendasi eksternal untuk advokasi kebijakan di berbagai sektor yang berkaitan dengan kepentingan anak muda,” kata Said, menerangkan.
“RedTalks” diformat sebagai ruang dialog bagi berbagai organisasi dan komunitas anak muda dari seluruh Jawa Timur untuk menyampaikan pandangan kritis konstruktif.
Beragam tokoh hadir sebagai pemantik diskusi, diantaranya Budayawan Sujiwo Tejo, Presiden BEM FISIP Unair Irfan Yasin, Petani Milenial Ahmad Lafilian, pegiat media sosial Natasha Keniraras, Airlangga Pribadi (Dosen FISIP Unair), dan Yohan Wahyu (Litbang Kompas).
Forum tersebut akan dipandu Pakar Komunikasi Universitas Airlangga, Dr Suko Widodo.
“Acara ini penting untuk menjaga kedekatan partai politik dengan publik. Partai politik harus mampu menampung aspirasi publik, termasuk kritikan,” kata Suko Widodo.
Ia menilai masyarakat saat ini semakin kritis terhadap isu-isu yang berkembang dan dialog terbuka semacam “RedTalks” menjadi kebutuhan. (KM-01)


