Empat pilar kebangsaan jangan hanya jadi slogan

kilasmadura

Sosialisasi empat pilar kebangsaan yang dilaksanakan MH Said Abdullah dalam bentuk diskusi di Sumenep menghadirkan Khairul Umam (kiri) dan Ahmad Wasil, Selasa (23/12) siang. (Ist)
Sosialisasi empat pilar kebangsaan yang dilaksanakan MH Said Abdullah dalam bentuk diskusi di Sumenep menghadirkan Khairul Umam (kiri) dan Ahmad Wasil, Selasa (23/12) siang. (Ist)

Sumenep (kilasmadura.com) – Empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika, jangan hanya jadi slogan dan bahan diskusi saja.

Hal itu mengemuka di forum Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang dilaksanakan MH Said Abdullah dalam kapasitasnya sebagai anggota MPR RI, Selasa (23/12) siang.

Sosialisasi yang dikemas dalam bentuk diskusi bersama aktivis kepemudaan di Sumenep itu menghadirkan dua narasumber, yakni Khairul Umam dan Ahmad Wasil.

Umam menekankan diskusi menjadi kunci agar empat pilar kebangsaan tidak berhenti sebagai konsep normatif.

Nilai-nilai kebangsaan harus dihidupkan melalui praktik sosial yang nyata.

“Kalau hanya dihafalkan, nilai kebangsaan akan rapuh. Diskusi seperti ini penting agar pemuda berani berpikir, berproses, dan mengambil peran nyata di masyarakat,” kata Ketua Forum Pemuda Kerukunan Umat Beragama (FPKUB) Sumenep ini menerangkan.

Umam mendorong pemuda untuk membuka ruang komunikasi lintas perbedaan, termasuk perbedaan pandangan politik dan identitas sosial.

Pembatasan relasi justru melemahkan semangat kebangsaan.

“Diskusi kebangsaan harus datang dari semua arah. Kalau menutup diri karena perbedaan warna politik, akan sulit berkembang. Empat pilar kebangsaan harus menjadi pedoman etis, bukan slogan,” katanya, menegaskan.

Sementara narasumber lainnya, Wasil menyoroti diskusi menjadi penting karena empat pilar kebangsaan belum sepenuhnya diterapkan dalam kehidupan nyata.

Tantangan kebangsaan terus berubah, sehingga pemahaman kritis harus terus diperbarui.

“Kalau empat pilar kebangsaan sudah benar-benar dijalankan, mungkin tidak perlu terus membicarakannya. Namun, realitanya, banyak yang masih berhenti di teori,” katanya, menambahkan.

Mantan Ketua IPNU Sumenep ini juga menekankan pentingnya ruang diskusi informal, seperti obrolan di warung kopi, sebagai tempat menguji dan mengembangkan nilai kebangsaan secara kontekstual.

“Di ruang-ruang sederhana itulah nilai kebangsaan diuji. Pemuda harus progresif, punya inisiatif, dan berani menjadi motor penggerak,” ujarnya, menegaskan.

Sosialisasi empat pilar kebangsaan melalui diskusi itu diharapkan tidak hanya memperkuat pemahaman para peserta, akan tetapi juga mendorong untuk menghidupkan nilai-nilai kebangsaan dalam praktik kehidupan sosial sehari-hari. (KM-01)

Berita Terkait:

Tinggalkan komentar